Sore ini aku terjatuh dalam renungan waktu. Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir mataku melihat indahnya matahari yang akan tertidur? Bagaimana jika pada sore ini juga waktuku untuk berkarya habis dan tiada lagi waktu untukku memperbarui hasil kerjaku? Barulah aku berpikir waktu adalah emas. Banyak waktu yang aku miliki hanya terbuang sia-sia tanpa menghasilkan suatu karya. Bagaimana jika sang waktu pada sore ini tak mau lagi bersamaku? Mimpi yang selama ini aku angankan mungkin akan kandas begitu saja. Pastilah masa mudaku tak terhias oleh karya yang sederhana. Bagaimana jika sang waktu enggan menemaniku? Aku yang tampan akan membusuk didalam tanah. Aku tak beda dengan mereka yang lebih tampan atau cantik. Mereka pun akan mengalaminya.
Sungguh, merenunginya membuat hati ini bergetar. Betapa nikmat Allah sungguh besar! Segala kuncinya ada pada pemanfaatan waktu. Sekarang bayangkan jika aku adalah seorang ayah yang menganggur tanpa mempunyai penghasilan sepeserpun dan aku pun enggan mencari pekerjaan, malas berusaha,serta banyak mengeluh kepada Allah bahwa ini tidak adil. Padahal sekali pun kita miskin, kita susah, Allah masih memberikan waktu kepada kita untuk berusaha serta berdzikir kepada-Nya. Hampir semua orang tahu bahwa Allah memberikan ujian kepada hambanya tanpa diluar batas kemampuan hamba-Nya. Dan mungkin memang benar Allah masih menyisipkan suatu nikmat berupa waktu. Apabila waktuku telah usai, dengan permisalan tadi, aku pun sudah tidak bisa berusaha mencari pekerjaan. Keluargaku akan merasa sulit jika tulang punggungnya telah tiada. Hal tersebutlah yang akan menambah beban keluarga yang ditinggalkan.
Sahabatku, mungkin diantara kalian ada yang bertanya apakah yang menulis ini sudah siap atas pahalanya itu? Secara pribadi, aku belum siap. Tapi jika Allah berkehendak mau bagaimana lagi? Yang bisa manusia lakukan adalah meminimalisasi perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan dosa. Mari persiapkan sedikit demi sedikit, Insha Allah kita terbiasa melakukannya. Dan sebelum waktu kita habis, marilah kita berkarya dan yang utama adalah beribadah kepada Allah Swt. Segala tulisan pasti ada kesalahan atau pun kekurangan. Mohon maaf
Dari seorang yang mengimpikan menulis ini di Kota Mekkah, Arab Saudi. Allahuakbar!
Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar