GRADUATED! - Mister Capung

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 16 Desember 2019

GRADUATED!


Bandung, 16 Desember 2019

Akhirnya bulan Desember tahun ini adalah bulan ceremonial aku lulus dari universitas. Kalau boleh dibilang, aku merasakan hal yang biasa saja meskipun sebelum mendapatkan gelar harus menghadapi tantangan yang unik-unik. Bersyukur? pasti!
Oiya…saat aku menuliskan tulisan ini, aku sedang duduk di teras lantai dua asrama mahasiswa di Bandung. Awan mendung dan udara dingin di Bandung membuatku ingin segera kembali ke kota dimana kosku berada. Untuk informasi, aku sudah berada di kota ini selama 5 hari. Ngapain ke Bandung? Aku ke sini karena mendapat undangan tes kerja salah satu perusahaan. Ya karena harus kemari, okelah aku ikuti. Sebenernya ini adalah kali pertamaku ke Kota Bandung. Sebelumnya paling hanya lewat saja.
Ceritanya bermula pada tanggal 10 ketika ceremoni wisudaku dilaksanakan, keluargaku datang. Sejujurnya aku tidak meminta mereka datang karena memang acara semacam itu tak wajib juga. Tapi sebagian orang bilang kalau mungkin ibu ingin melihat anaknya maju ke atas panggung berjabat tangan dengan rektor. Mungkin juga tidak hanya itu, bisa jadi ada rasa bangga tersediri bagi para orangtua untuk menghadiri perhelatan wisuda anaknya.
Sehabis acara wisuda, kami pergi ke kosan untuk istrihat sejenak. Sungguh, hari itu aku merasa lelah karena malam sebelum hari wisuda aku hanya tidur kurang dari 2 jam. Hal itu dikarenakan aku lapar dan terbangun di tengah malam. Paginya, mataku merah tak terkondisikan. Setelah hari menjelang sore, kami bersiap untuk pergi ke  kota dimana aku sekolah dulu. Waktu itu aku harus berpikir beberapa kali, akankah aku ikut mereka. Badan ini terasa ingin istirahat dan tak mau pergi-pergi lagi. Tapi hati kecilku berkata saat itu adalah kesempatanku untuk pergi ke makam mbah, beliau selalu tanya aku kelas berapa dan kapan lulus. Aku ingin membagikan  bunga-bunga yang aku dapat untuk mbah yang diakhir hidupnya belum sempat melihat aku lulus.
Kami sampai sana sekitar 9 malam. Keesokan harinya, sekitar pukul 6 pagi aku bergegas mengayuh sepeda saudara untuk pergi ke makam sambil membawa hadiah untuk mbah. Jujur, aku ikhlas dan aku berpikir realistis bahwa kita sudah berbeda alam dan dimensi. Tapi entah kenapa aku ingin melakukan hal itu. Tiba dimakam sontak mengingatkanku bahwa suatu hari aku juga akan seperti mereka-mereka yang telah di timbun tanah.
Aku dan keluarga hanya menghabiskan waktu selama 1 hari disana dan melanjutkan perjalanan kembali untuk kembali pulang. Sementara aku harus pergi ke Bandung untuk mengikuti tes kerja. Ngomongin tentang kerja, sebenernya ini adalah kali kedua aku diundang untuk tes. Meskipun hanya sekeder undangan, rasanya bahagia sekali. Padahal belum tentu diterima.
Yang pertama, aku mendapatkan undangan tes oleh salah satu instansi ketika gladi wisuda. Ceritanya tanggal 9 sore aku telat berangkat gladi karena ketiduran. Sebenarnya aku sudah pesan ke salah satu kawan untuk menelpon aku sampai bangun agar tidak telat. Tetapi karena kawanku satu itu baik sekali, dia hanya menelponku satu kali dengan dalih wasapku terlihat online. Padahal wasap online pun belum tentu orangnya online ya. Tapi tak apa, semua baik-baik saja. Hanya saja aku merasa linglung ketika masuk ruangan besar berisi orang-orang yang akan diwisuda keesokan harinya. Baru duduk beberapa menit, handphoneku bergetar. Ada telepon dari nomor tak dikenal masuk. Ditemani suara sound instruktur gladi, aku mengangkat telfon itu. Ternyata itu adalah telpon dari salah satu instansi tadi. Seorang pria berkata bahwa aku besok harus datang ke kantor untuk mengikuti tes seleksi. Sudah ku jelaskan bahwa besok ada acara wisuda tetapi masnya tetap bilang bahwa aku akan ditunggu sampai pukul 2 siang. Yasudahlah ya, itu mungkin bukan rejekiku.
Lanjut cerita yang di Bandung,
Beruntung banyak kawan dari satu daerah yang kuliah di Bandung, tentu saja aku bisa meminta mereka untuk aku tumpangi beberapa hari. Tes kali ini diadakan disalah satu gedung universitas negeri di kota ini. Aku tak sendiri kali ini, ada kawan satu jurusan yang ikut berjuang bersama dan ternyata hari berikutnya aku bertemu kawan SMA yang berjuang juga. Seleksi ini mengingatkanku ketika masa-masa berjuang tes sana sini dari satu kota ke kota lainnya untuk mendapatkan kursi di bangku kuliah. Sekarang ceritanya hampir sama hanya topiknya berbeda. Peserta yang mengikuti tes pun tak hanya satu angkatan denganku tapi banyak kakak-kakak angkatan yang turut mencari peruntungan.
Di kesempatan ini, aku berpikir bahwa sainganku bukan mereka-mereka. Sainganku adalah diriku sendiri. Bagaimana aku mengenali diri sendiri dan menjadi the best version dari diri ini adalah kuncinya.
Selamat dan semangat berpetualang wahai pemuda!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar