Siapa
sangka, dulu aku merasa sebagai orang yang benar-benar sudah besar meskipun
masih bersekolah dasar. Kini diumur yang banyak orang menyebutnya sebagai umur
yang dihadapkan dengan quarter life crisis, aku menganggap aku yang dulu tak lain adalah seorang anak kecil
yang belum mengerti apa-apa, mempunyai cerita menarik untuk masa depan, dan
masih bisa dicetak sebagai generasi yang hebat. Mengulang suatu waktu memang
tak mungkin, yang bisa aku lakukan adalah berbicara pada inner child sendiri dengan berkata “Kamu hebat!”. Rasanya hal itu
membuat setiap perjuangan yang telah dikerahkan selalu berharga.
Sore
hari, sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku menggelar sebuah karung plastik
berukuran 1 x 0,5 m pada sebuah alas tanah di rumah. Tubuh kecil aku hadapkan
ke arah pintu supaya mendapat penerangan dari cahaya sinar matahari. Tak lupa
meja berukuran sedang aku gunakan untuk alas belajar. Tak disangka, saat itu
aku akan menghadapi yang namanya UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar
Nasional).
Aku
dulu sama seperti anak pada umumnya. Suka bermain, tak mengerti dengan apa yang
namanya kerja keras dalam belajar, bisa dibilang aku adalah anak yang mengikuti
arus. Aku suka dengan kebebasan yang diberikan untuk bermain disawah, kebun,
sungai, hujan-hujanan, panas-panasan, dan hal lain yang memang tak pernah
dihiraukan oleh anak kecil. Ada suatu waktu dimana aku merasa bahwa ternyata
apabila mengeluarkan energi dan waktu sedikit lagi untuk bekerja keras mungkin
aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang aku dapatkan saat itu. Pikiran
itu muncul ketika aku belajar matematika sore hari untuk persiapan ujian
keesokan harinya.
Aku
benar-benar merasakan apa yang namanya belajar adalah pada saat itu. Aku
mengulang materi yang sudah diberikan guru, aku mengerjakan dan menganalisis sendiri. Kesadaran akan kepuasan belajar benar-benar muncul. Ada gumaman
bernada sedikit penyesalan yang aku keluarkan, matematika adalah hal yang mudah
dipelajari. Tak seharusnya aku merasa matematika adalah pelajaran yang sulit. Andaikan
aku bisa lebih sabar dan telaten, aku bisa mendapatkan apa yang aku
cita-citakan.
Kebahagiaan
bisa aku rasakan saat ini karena aku bisa menemukan kesadaran yang mungkin tak
semua orang bisa menemukannya. Berita bahagia lagi ketika aku merasa bahwa
sesuatu yang bisa didapatkan karena hasil usaha sendiri, maka hal itu akan
lebih dihargai oleh pribadi. Aku tak akan ingin judge keterlambatan menemukan kesadaran adalah sebuah penyesalan. Aku
harus mengapreasiasi aku kecil karena telah berhasil menemukan kesadaran yang
bisa membantu cerita selanjutnya lebih menarik. Terimakasih aku!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar