Dari judul yang aku tulis, pasti
teman-teman yang baca sudah sering mendengar kalimat seperti itu. Sebenarnya,
memang banyak kalimat-kalimat yang maknanya dalam tapi karena saking seringnya
kita dengar, seolah-olah kalimat itu hanya sebatas ucapan yang tak ada makna. Memang
kembali lagi ke masing-masing pribadi dalam merenunginya.
Cerita yang ingin aku sampaikan
berawal dari beberapa hari yang lalu aku mengalami 3 hal yang sempat membuatku
semakin bosan karena PSBB di kota ini. Beberapa hal untuk menjauhkan diri dari
kejenuhan stay at home sudah dilakoni
tapi apa daya, manusia butuh suasana baru. Ibarat sedang survive untuk keluar dari lubang gelap, tiba-tiba tangga yang
dijadikan pijakan bergoyang. Hal itu cukup membuat deg-degan.
Salah satu kegiatan yang sering aku
lakukan adalah mengecek email barangkali ada pengumuman yang masuk ke inbox. Akhir-akhir ini memang aku getol
untuk apply beberapa hal yang
menurutku menarik. Salah satunya pekerjaan, salah duanya banyak. Di
hari yang sama, aku mendapat 2 email pemberitahuan.
Email pertama adalah balasan dari
suatu instansi yang menganjurkan bahwa mungkin aku harus apply di akhir waktu dan bisa jadi di lain kesempatan (re : tahun
berikutnya) karena salah satu berkas yang dibutukan adalah medical check up (mcu) menjadi kendala. Di masa covid seperti ini
tentunya adalah hal yang sulit untuk mendapatkan surat kesehatan dari dokter di
rumah sakit. Sebelumnya aku memang pernah ke rumah sakit untuk memeriksakan
diri guna mendapatkan surat sehat tetapi setelah sekian lama menunggu, akhirnya
ada pengumuman bahwa dokter tidak mau mengeluarkan surat sehat sebelum covid-19
ini berakhir. Mau bagaimana lagi? Tentunya aku harus berdoa semoga pandemi ini
segera berakhir. Nah, dari pengalaman tersebut aku mencoba untuk mengontak
sebuah instansi yang kaitannya dengan
hal tersebut. Aku mendapatkan balasan sedemikian rupa di awal. Jadi, yang harus
aku lakukan adalah bersabar sekarang.
Hal kedua adalah email pemberitahuan
bahwa suatu acara internasional yang aku apply
jauh-jauh hari dibatalkan karena covid-19 ini semakin merajalela di
negaranya. Tentu aku memang tak berharap banyak agar diterima sebagai salah
satu peserta karena tujuan aku adalah mencoba. Tapi dibalik kata mencoba itu
tentunya aku mempunyai usaha. Aku telah menunggu event ini sejak tahun lalu
karena untuk tahun lalu aku belum masuk ke salah satu syarat yang diharuskan. Nah,
ketika aku sudah mempersiapkannya tahun ini dengan cukup baik dan serius,
ternyata ada pengumuman bahwa acara di cancel.
Secara pribadi, aku berpikir bahwa lebih baik aku menerima email pemberitahuan aku
gagal tahun ini karena itu akan menjadikan tolak ukur untuk belajar lebih baik
lagi guna persiapan tahun berikutnya. Di lain sisi aku harus menghargai bahwa
keselamatan dan kesehatan adalah prioritas.
Kejadian ketiga ini cukup mengejutkan.
Ini berkaitan dengan relawan covid-19. Jadi, ada salah satu instansi di
Indonesia yang mengadakan pembukaan relawan covid-19. Aku sebagai manusia yang
penasaran dan ingin ikut berpartisipasi dalam penangan covid ini pun tertarik
untuk mengikutinya. Persyaratannya tidak begitu rumit tetapi perlu proses untuk
mengumpulkannya. Sebelumnya memang aku harus melakukan beberapa pertimbangan
guna memutuskan hal ini karena aku tak ingin ikut asal ikut dan tidak tahu
tujuan serta alasan yang tepat.
Setelah memutuskan untuk ikut, aku proses
segala persyaratannya. Kebetulan untuk mengirimkan berkas bisa dilakukan dengan
dua cara yaitu mengirim ke email atau whatsapp admin. Ketika berkas-berkas
sudah hampir selesai untuk dikirim, aku menemui suatu kebingungan. Aku mencoba
mengontak admin lewat whatsapp untuk menanyakannya. Namun hal tersebut aku
urungkan karena aku melihat bio di whatsappa admin menjelaskan bahwa rekruitmen
telah di tutup tepat 25 menit yang lalu. Sontak aku kaget padahal di selebaran
pengumuman tertulis 2 hari lagi adalah batas terakhir pengiriman berkas. Di avatar
admin menerangkan bahwa berkas yang masuk telah mencapai 500. Aku bisa memahami itu suatu angka yang tidak
sedikit tetapi tetap saja aku merasa terkejut. Ya, aku adalah aku. Aku tetap
saja mengirim berkas tetapi via email meskipun ada pengumuman seperti itu. Yang
penting usaha dulu, siapa tahu rejeki. Iya gak?
Dibalik cerita-cerita menarik ini,
aku bisa mengambil khikmah bahwa ini adalah saatnya aku belajar untuk menjadi
lebih baik. Akan ada waktu yang tepat disediakan Allah untukku mengambil suatu
kesempatan. Ini ada relevansinya dengan kutipan ayat berikut.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)
Barangkali
aku inginnya sekarang tetapi yang sekarang adalah hal yang tidak tepat. Allah
sudah menentukan waktu (rejeki) untuk setiap hambanya. Gak bakal Ketuker!
Salam semangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar