Percayalah, rejeki kita tak akan tertukar! - Mister Capung

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Minggu, 10 Mei 2020

Percayalah, rejeki kita tak akan tertukar!



Dari judul yang aku tulis, pasti teman-teman yang baca sudah sering mendengar kalimat seperti itu. Sebenarnya, memang banyak kalimat-kalimat yang maknanya dalam tapi karena saking seringnya kita dengar, seolah-olah kalimat itu hanya sebatas ucapan yang tak ada makna. Memang kembali lagi ke masing-masing pribadi dalam merenunginya.
Cerita yang ingin aku sampaikan berawal dari beberapa hari yang lalu aku mengalami 3 hal yang sempat membuatku semakin bosan karena PSBB di kota ini. Beberapa hal untuk menjauhkan diri dari kejenuhan stay at home sudah dilakoni tapi apa daya, manusia butuh suasana baru. Ibarat sedang survive untuk keluar dari lubang gelap, tiba-tiba tangga yang dijadikan pijakan bergoyang. Hal itu cukup membuat deg-degan.
Salah satu kegiatan yang sering aku lakukan adalah mengecek email barangkali ada pengumuman yang masuk ke inbox. Akhir-akhir ini memang aku getol untuk apply beberapa hal yang menurutku menarik. Salah satunya pekerjaan, salah duanya banyak. Di hari yang sama, aku mendapat 2 email pemberitahuan.
Email pertama adalah balasan dari suatu instansi yang menganjurkan bahwa mungkin aku harus apply di akhir waktu dan bisa jadi di lain kesempatan (re : tahun berikutnya) karena salah satu berkas yang dibutukan adalah medical check up (mcu) menjadi kendala. Di masa covid seperti ini tentunya adalah hal yang sulit untuk mendapatkan surat kesehatan dari dokter di rumah sakit. Sebelumnya aku memang pernah ke rumah sakit untuk memeriksakan diri guna mendapatkan surat sehat tetapi setelah sekian lama menunggu, akhirnya ada pengumuman bahwa dokter tidak mau mengeluarkan surat sehat sebelum covid-19 ini berakhir. Mau bagaimana lagi? Tentunya aku harus berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Nah, dari pengalaman tersebut aku mencoba untuk mengontak sebuah instansi  yang kaitannya dengan hal tersebut. Aku mendapatkan balasan sedemikian rupa di awal. Jadi, yang harus aku lakukan adalah bersabar sekarang.
Hal kedua adalah email pemberitahuan bahwa suatu acara internasional yang aku apply jauh-jauh hari dibatalkan karena covid-19 ini semakin merajalela di negaranya. Tentu aku memang tak berharap banyak agar diterima sebagai salah satu peserta karena tujuan aku adalah mencoba. Tapi dibalik kata mencoba itu tentunya aku mempunyai usaha. Aku telah menunggu event ini sejak tahun lalu karena untuk tahun lalu aku belum masuk ke salah satu syarat yang diharuskan. Nah, ketika aku sudah mempersiapkannya tahun ini dengan cukup baik dan serius, ternyata ada pengumuman bahwa acara di cancel. Secara pribadi, aku berpikir bahwa lebih baik aku menerima email pemberitahuan aku gagal tahun ini karena itu akan menjadikan tolak ukur untuk belajar lebih baik lagi guna persiapan tahun berikutnya. Di lain sisi aku harus menghargai bahwa keselamatan dan kesehatan adalah prioritas.
Kejadian ketiga ini cukup mengejutkan. Ini berkaitan dengan relawan covid-19. Jadi, ada salah satu instansi di Indonesia yang mengadakan pembukaan relawan covid-19. Aku sebagai manusia yang penasaran dan ingin ikut berpartisipasi dalam penangan covid ini pun tertarik untuk mengikutinya. Persyaratannya tidak begitu rumit tetapi perlu proses untuk mengumpulkannya. Sebelumnya memang aku harus melakukan beberapa pertimbangan guna memutuskan hal ini karena aku tak ingin ikut asal ikut dan tidak tahu tujuan serta alasan yang tepat.
 Setelah memutuskan untuk ikut, aku proses segala persyaratannya. Kebetulan untuk mengirimkan berkas bisa dilakukan dengan dua cara yaitu mengirim ke email atau whatsapp admin. Ketika berkas-berkas sudah hampir selesai untuk dikirim, aku menemui suatu kebingungan. Aku mencoba mengontak admin lewat whatsapp untuk menanyakannya. Namun hal tersebut aku urungkan karena aku melihat bio di whatsappa admin menjelaskan bahwa rekruitmen telah di tutup tepat 25 menit yang lalu. Sontak aku kaget padahal di selebaran pengumuman tertulis 2 hari lagi adalah batas terakhir pengiriman berkas. Di avatar admin menerangkan bahwa berkas yang masuk telah mencapai 500. Aku  bisa memahami itu suatu angka yang tidak sedikit tetapi tetap saja aku merasa terkejut. Ya, aku adalah aku. Aku tetap saja mengirim berkas tetapi via email meskipun ada pengumuman seperti itu. Yang penting usaha dulu, siapa tahu rejeki. Iya gak?
Dibalik cerita-cerita menarik ini, aku bisa mengambil khikmah bahwa ini adalah saatnya aku belajar untuk menjadi lebih baik. Akan ada waktu yang tepat disediakan Allah untukku mengambil suatu kesempatan. Ini ada relevansinya dengan kutipan ayat berikut.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)
            Barangkali aku inginnya sekarang tetapi yang sekarang adalah hal yang tidak tepat. Allah sudah menentukan waktu (rejeki) untuk setiap hambanya. Gak bakal Ketuker!
Salam semangat!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar