Dua Kali Rapid test, Dua Kali Swab - Mister Capung

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 17 Juli 2020

Dua Kali Rapid test, Dua Kali Swab



“Mas, nanti rapid ya. Hasil reaktif atau non reaktif, senin depan tetap swab” itulah kalimat yang dijelaskan oleh kepala seksi. Hari itu juga aku menuju laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) karena harus melakukan rapid tes untuk kedua kalinya. Pertama kali aku melakukan rapid berbayar ketika berada di Tangerang. Namun rapid kedua itu dilakukan tanpa biaya karena aku tergabung dalam relawan. Sejak awal terjun lapangan memang salah seorang dokter yang menyerahkan aku ke kepala dinas kesehatan bertanya apakah diri ini sudah pernah melakukan rapid. Aku jelaskan apa adanya bahwa aku pernah rapid sebelum pergi pembekalan ke Semarang. Mungkin karena ada salah seorang yang positif ketika di gedung dinkesprov, maka dari itu kasie mendapat arahan agar relawan harus menjalani tes lab.
Perasaan saat itu memang campur aduk karena aku harus menyiapkan mental lagi. Mengingat pertama kali aku melakukan rapid tes juga perlu menata hati dan pikiran agar bersiap menerima apa pun hasilnya. Siang sekitar pukul 1 aku sampai di labkesda. Suasana sudah sepi. Bangku-bangku bersilang tanda tidak boleh ditempati kosong, tak ada orang yang duduk. Ruangan pendaftaran pun sudah tak ada yang menghuni. Nampaknya gedung ini buka hanya setengah hari. Melihat kondisi seperti itu, aku coba menuju lorong gedung berusaha menemui salah seorang yang masih tersisa. Aku mengetuk ruangan pertama. Ternyata aku singgah pada ruangan yang tepat. Disana sudah terdapat dua orang (laki dan perempuan paruh baya).
“Mas, relawan ya?” tanya salah seorang bapak
“ betul pak” jawabku
Setelah itu, mereka mempersilahkan aku duduk sembari menyiapkan alat. Tak perlu waktu lama untuk mengatur alat rapid, ibu petugas memintaku menjulurkan jari untuk diambil sampel darah. Ada yang berbeda rapid saat itu dengan sebelumnya. Rasanya lebih sakit ditusukkan jarum oleh ibu petugas dari pada ketika aku rapid sebelumnya dengan dokter pria. Memang ya, beda orang beda tangan. Setelah darah diteteskan ke alat aku diminta untuk menunggu di depan. Sekitar 15 menit kemudian hasil bisa dilihat. Alhamdulillah non reaktif. Meski akurasi rapid tes hanya sekitar 15% (katanya), tapi aku tetap khawatir apabila reaktif. Bisa jadi aku tidak bisa berkontribusi pada kegiatan kerelawanan ini.
Hasil Rapid Test Kedua

Sesampainya di kantor, aku sampaikan hasilnya kepada pak kasie. Beliau menjelaskan sepertinya aku tidak perlu swab karena sudah dua kali rapid hasilnya non reaktif (Tanggal 27 dan tanggal 7). Tetapi selang beberapa hari, beliau merekomendasikan aku untuk melakukan swab. Hal ini membuatku lagi dan lagi menyiapkan diri untuk menerima kenyataan hasil lab. Pikiran tentang diisolasi apabila positif membuatku mengernyitkan dahi. Mungkin aku bisa melakukan kegiatan apapun yang aku suka dan justru lebih bisa refleksi diri nantinya apabila diisolasi. Di lain sisi, aku mungkin tak bisa meneruskan misi kerelawananku sementara dan merugikan banyak orang yang serumah denganku karena harus melakukan swab juga, belum lagi stigma masyarakat sekitar tentang mereka. Pikiran aneh memang datang begitu saja.
Senin pagi 13 Juli, aku masih berangkat ke kantor karena pelaksanaan swab dilakukan siang hari. Sekitar pukul 2 siang aku dan salah seorang kawan relawan menuju salah satu pusekesmas yang melakukan swab. Hanya ada beberapa orang yang duduk di kursi untuk menunggu antrean. Kami berdua mendapat antrean akhir. Sebelum diambil sampel, aku sudah research tentang rasanya swab kepada kawan-kawan yang sudah pernah mengalami. Ada yang bilang sakit, ada yang bilang geli, ada yang memberi tips agar makan dulu sebelum di masuki alat ke hidung, ada juga yang bilang tarik napas dan rileks saja. Aku turuti semua tips dari mereka.
Ketika giliranku tiba, aku dipersilahkan duduk di kursi plastik yang sudah disediakan. Sudah ada 3 orang petugas lengkap dengan APD yang siap mengambil sampel. Pertama-tama, aku diminta untuk menjulurkan lidah keluar dengan rileks. Salah seorang dari mereka ada yang mengarahkan senter ke arah mulutku. Petugas lain mencoba menekan lidahku memakai alat semacam stik eskrim dan memasukkan semacam cotton butt ke bagian kulit dekat tenggorokan kemudian mengoleskannya agar didapatkan sampel. Rasanya tidak ada yang aneh. Setelah sampel diambil, petugas lain sudah menyiapkan tabung untuk tempat sampel. Aku kira hanya sampai disitu saja. Namun ternyata petugas memintaku mendongakkan kepala untuk diambil sampel melalui hidung. Caranya hampir sama seperti pengambilan sampel di mulut. Hanya saja disini kita harus berhati-hati untuk mengatur napas. Sekali beda ritme antara petugas memasukkan alatnya ke hidung dengan tarikan napas kita, itu akan cukup membuat hidung kita sakit. Bagiku rasanya seperti kemasukan air saat renang karena ketika aku berhenti menarik napas, petugas justru memasukkan alat lebih dalam lagi. Over all, baik-baik saja.
Selepas aku dan kawan melakukan swab, kami tidak segera pulang ke rumah. Ada sedikit obrolan tentang pengalaman pertama kali diswab. Rasanya agak sedikit lega telah menggugurkan kewajiban dan tugas selanjutnya adalah menunggu hasil. Tak lama kemudian, petugas berbicara kepada kami bahwa besok pagi ditunggu lagi jam 9. Wado! Ternyata swab lagi. Keesokan harinya kami datang lagi.  Perasaan sudah tak separno sebelumnya karena aku merasa sudah punya pengalaman. Setelah swab kedua, pak kasie memintaku untuk istirahat di rumah sampai hasil lab keluar sedangkan kawanku dianjurkan tetap masuk karena alasan banyaknya pekerjaan.
Selama menjalani work from home, aku mencoba mengumpulkan pikiran positif agar siap menerima apa pun hasilnya. Doaku memang meminta dijauhkan dari penyakit tersebut tetapi tak ada salahnya menyiapkan mental dengan apa yang akan terjadi. Aku membangun paradigma : “apapun hasilnya, itu akan menjadi ceritaku yang datang dari Allah”.
Beberapa hari menunggu hasil, akhirnya pada hari jum’at, 17 Juli 2020 ada panggilan tak terjawab masuk sekitar pukul 10. Aku memang telat membuka handphone. Sekitar pukul 1 siang aku mengirim pesan kepada pak kasie untuk menanyakan perihal panggilannya karena takut ada tugas mendadak yang harus diselesaikan. Ternyata beliau menginfokan bahwa hasil swab sudah keluar dan alhamdulillah negatif. Bersyukur? Pasti, karena saat ini statusku jelas. Akhirnya aku bisa menarik napas lega dan bisa meneruskan misi kerelawanku. Semoga kita selalu diberikan kesehatan oleh Allah ya kawan-kawan. Tetap jaga kesehatan dan melakukan protokol kesehatan yang sudah ada. Untuk memutus rantai penyebaran covid ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tugas kita di semua sektor dan lapisan. Semangat!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar