“Mas, nanti rapid ya. Hasil reaktif
atau non reaktif, senin depan tetap swab” itulah kalimat yang dijelaskan oleh
kepala seksi. Hari itu juga aku menuju laboratorium kesehatan daerah (Labkesda)
karena harus melakukan rapid tes untuk kedua kalinya. Pertama kali aku
melakukan rapid berbayar ketika berada di Tangerang. Namun rapid kedua itu
dilakukan tanpa biaya karena aku tergabung dalam relawan. Sejak awal terjun
lapangan memang salah seorang dokter yang menyerahkan aku ke kepala dinas
kesehatan bertanya apakah diri ini sudah pernah melakukan rapid. Aku jelaskan
apa adanya bahwa aku pernah rapid sebelum pergi pembekalan ke Semarang. Mungkin
karena ada salah seorang yang positif ketika di gedung dinkesprov, maka dari
itu kasie mendapat arahan agar relawan harus menjalani tes lab.
Perasaan saat itu memang campur aduk karena
aku harus menyiapkan mental lagi. Mengingat pertama kali aku melakukan rapid
tes juga perlu menata hati dan pikiran agar bersiap menerima apa pun hasilnya. Siang
sekitar pukul 1 aku sampai di labkesda. Suasana sudah sepi. Bangku-bangku
bersilang tanda tidak boleh ditempati kosong, tak ada orang yang duduk. Ruangan
pendaftaran pun sudah tak ada yang menghuni. Nampaknya gedung ini buka hanya
setengah hari. Melihat kondisi seperti itu, aku coba menuju lorong gedung
berusaha menemui salah seorang yang masih tersisa. Aku mengetuk ruangan
pertama. Ternyata aku singgah pada ruangan yang tepat. Disana sudah terdapat
dua orang (laki dan perempuan paruh baya).
“Mas, relawan ya?” tanya salah
seorang bapak
“ betul pak” jawabku
Setelah itu, mereka mempersilahkan aku
duduk sembari menyiapkan alat. Tak perlu waktu lama untuk mengatur alat rapid, ibu
petugas memintaku menjulurkan jari untuk diambil sampel darah. Ada yang berbeda
rapid saat itu dengan sebelumnya. Rasanya lebih sakit ditusukkan jarum oleh ibu
petugas dari pada ketika aku rapid sebelumnya dengan dokter pria. Memang ya,
beda orang beda tangan. Setelah darah diteteskan ke alat aku diminta untuk
menunggu di depan. Sekitar 15 menit kemudian hasil bisa dilihat. Alhamdulillah
non reaktif. Meski akurasi rapid tes hanya sekitar 15% (katanya), tapi aku
tetap khawatir apabila reaktif. Bisa jadi aku tidak bisa berkontribusi pada
kegiatan kerelawanan ini.
![]() |
| Hasil Rapid Test Kedua |
Sesampainya di kantor, aku sampaikan
hasilnya kepada pak kasie. Beliau menjelaskan sepertinya aku tidak perlu swab
karena sudah dua kali rapid hasilnya non reaktif (Tanggal 27 dan tanggal 7).
Tetapi selang beberapa hari, beliau merekomendasikan aku untuk melakukan swab.
Hal ini membuatku lagi dan lagi menyiapkan diri untuk menerima kenyataan hasil lab.
Pikiran tentang diisolasi apabila positif membuatku mengernyitkan dahi. Mungkin
aku bisa melakukan kegiatan apapun yang aku suka dan justru lebih bisa refleksi
diri nantinya apabila diisolasi. Di lain sisi, aku mungkin tak bisa meneruskan
misi kerelawananku sementara dan merugikan banyak orang yang serumah denganku
karena harus melakukan swab juga, belum lagi stigma masyarakat sekitar tentang
mereka. Pikiran aneh memang datang begitu saja.
Senin pagi 13 Juli, aku masih
berangkat ke kantor karena pelaksanaan swab dilakukan siang hari. Sekitar pukul
2 siang aku dan salah seorang kawan relawan menuju salah satu pusekesmas yang
melakukan swab. Hanya ada beberapa orang yang duduk di kursi untuk menunggu
antrean. Kami berdua mendapat antrean akhir. Sebelum diambil sampel, aku sudah research tentang rasanya swab kepada
kawan-kawan yang sudah pernah mengalami. Ada yang bilang sakit, ada yang bilang
geli, ada yang memberi tips agar makan dulu sebelum di masuki alat ke hidung,
ada juga yang bilang tarik napas dan rileks saja. Aku turuti semua tips dari
mereka.
Ketika giliranku tiba, aku
dipersilahkan duduk di kursi plastik yang sudah disediakan. Sudah ada 3 orang
petugas lengkap dengan APD yang siap mengambil sampel. Pertama-tama, aku
diminta untuk menjulurkan lidah keluar dengan rileks. Salah seorang dari mereka
ada yang mengarahkan senter ke arah mulutku. Petugas lain mencoba menekan
lidahku memakai alat semacam stik eskrim dan memasukkan semacam cotton butt ke bagian kulit dekat
tenggorokan kemudian mengoleskannya agar didapatkan sampel. Rasanya tidak ada
yang aneh. Setelah sampel diambil, petugas lain sudah menyiapkan tabung untuk
tempat sampel. Aku kira hanya sampai disitu saja. Namun ternyata petugas
memintaku mendongakkan kepala untuk diambil sampel melalui hidung. Caranya
hampir sama seperti pengambilan sampel di mulut. Hanya saja disini kita harus
berhati-hati untuk mengatur napas. Sekali beda ritme antara petugas memasukkan
alatnya ke hidung dengan tarikan napas kita, itu akan cukup membuat hidung kita
sakit. Bagiku rasanya seperti kemasukan air saat renang karena ketika aku
berhenti menarik napas, petugas justru memasukkan alat lebih dalam lagi. Over all, baik-baik saja.
Selepas aku dan kawan melakukan swab,
kami tidak segera pulang ke rumah. Ada sedikit obrolan tentang pengalaman
pertama kali diswab. Rasanya agak sedikit lega telah menggugurkan kewajiban dan
tugas selanjutnya adalah menunggu hasil. Tak lama kemudian, petugas berbicara
kepada kami bahwa besok pagi ditunggu lagi jam 9. Wado! Ternyata swab lagi. Keesokan
harinya kami datang lagi. Perasaan sudah
tak separno sebelumnya karena aku
merasa sudah punya pengalaman. Setelah swab kedua, pak kasie memintaku untuk
istirahat di rumah sampai hasil lab keluar sedangkan kawanku dianjurkan tetap
masuk karena alasan banyaknya pekerjaan.
Selama menjalani work from home, aku mencoba mengumpulkan pikiran positif agar siap menerima
apa pun hasilnya. Doaku memang meminta dijauhkan dari penyakit tersebut tetapi
tak ada salahnya menyiapkan mental dengan apa yang akan terjadi. Aku membangun
paradigma : “apapun hasilnya, itu akan menjadi ceritaku yang datang dari
Allah”.
Beberapa hari menunggu hasil,
akhirnya pada hari jum’at, 17 Juli 2020 ada panggilan tak terjawab masuk
sekitar pukul 10. Aku memang telat membuka handphone. Sekitar pukul 1 siang aku
mengirim pesan kepada pak kasie untuk menanyakan perihal panggilannya karena
takut ada tugas mendadak yang harus diselesaikan. Ternyata beliau menginfokan
bahwa hasil swab sudah keluar dan alhamdulillah negatif. Bersyukur? Pasti,
karena saat ini statusku jelas. Akhirnya aku bisa menarik napas lega dan bisa
meneruskan misi kerelawanku. Semoga kita selalu diberikan kesehatan oleh Allah
ya kawan-kawan. Tetap jaga kesehatan dan melakukan protokol kesehatan yang
sudah ada. Untuk memutus rantai penyebaran covid ini bukan hanya tugas
pemerintah, tetapi tugas kita di semua sektor dan lapisan. Semangat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar