Menjadi Relawan Covid-19 - Mister Capung

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 14 Juli 2020

Menjadi Relawan Covid-19



Setelah beberapa kali mendaftar sebagai relawan penanganan pandemi, akhirnya yang keempat kalinya aku bisa menghela napas lega. Iya, aku bahagia karena akan dapat mengaplikasikan apa yang telah aku pelajari di bangku kuliah dan menerapkannya di kehidupan nyata. Yang semula hanya sebatas teori,  kini aku bisa mengenal medan yang sebenenarnya. Sebelumnya memang aku sudah pernah menyiapkan diri untuk apply sebagai relawan covid-19 di berbagai rekruitmen seperti di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di NGO, dan di Bandara Soetta. Ada yang benar-benar di tolak dan ada yang kuotanya penuh tetapi karena jiwa pantang menyerah selalu membara, tetap saja mendaftar walau sudah ada tulisan ditutup. Semua memang ada cerita uniknya masing-masing. Jujur saja, aku harus apresiasi diri sendiri atas kemauan untuk terus melangkah menuju kebaikan. Semoga apa yang bisa aku lakukan menjadi sebuah kebaikan untuk diri maupun orang banyak.
Menjadi seorang relawan tentu mempunyai kepuasan tersendiri. Cerita Kerelawananku bermula ketika beberapa minggu yang lalu ada pesan di grup peminatan terkait dibutuhkannya relawan untuk tenaga promosi kesehatan, surveilans, dan ATLM (Ahli Tenaga Laboratorium Medis (kalau tidak salah)) dari dinas kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Persyaratan yang diajukan memang tidak terlalu rumit dari rekrutmen sebelumnya tetapi aku harus berpikir ulang karena posisi sedang tidak di Jawa Tengah. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba kesempatan langka ini. Aku kembali pada prinsip “Cobalah… selagi itu niat yang baik”. Berhari-hari hingga berminggu-minggu menunggu pengumuman, akhirnya aku dinyatakan lolos. Rasa bahagiaku memang simpel, hanya sebatas nama ada di edaran pengumuman cukup membuatku bisa melebarkan bibir dan mengeluarkan senyum merekah. Mulai dari sini tantangan untuk sedikit berjuang pun muncul.
Aku harus menyiapkan segalanya secara matang karena relawan diwajibkan untuk menghadiri pembekalan di Semarang. Aku sempat bepikir bahwa pembekalan akan diadakan secara online, tapi siapa sangka karena sudah ditetapkan new normal maka beberapa instansi termasuk dinas kesehatan  provinsi bisa melaksanakan pertemuan secara offline (langsung) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Hal yang pertama aku pikirkan adalah transportasi apa yang harus aku pilih untuk menuju ibu kota provinsi Jawa Tengah itu. Pilihan jatuh pada kereta api karena aku berpikir apabila naik kereta waktu yang aku keluarkan sudah pasti dan yang jelas waktu solat bisa diatur. Sayangnya aku harus mengurus surat izin keluar masuk (SIKM) dengan mengajukan secara online di web yang disediakan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Selain itu, aku harus rapid tes sebagai kelengkapan untuk menaiki kereta.
Aku ingat betul bahwa hari sabtu aku melakukan rapid tes dengan biaya yang membuat kantong pengangguran berteriak. Ada kekhawatiran tersendiri ketika menunggu hasil tapi aku bersyukur alatnya menunjukkan non reaktif. Keesokan harinya aku menatap layar laptop sejak pagi untuk mengajukan SIKM. Pada saat itu kebingungan melanda karena aku merasa ada informasi yang salah mengenai pengajuan SIKM. Entah aku yang kurang teliti atau memang persyaratannya telah berubah. Tanpa berpikir panjang, borang yang masih kosong segera ku isi. Rasanya sudah tak ada waktu lagi mengingat sore hari aku harus segera memutuskan untuk membeli tiket. Hingga jarum jam menunjukkan pukul satu siang, belum ada kepastian yang masuk ke email. Aku merasa resah dan bergumam “Ya Allah apabila aku diizinkan untuk menjadi relawan, mudahkanlah jalan ini”. Kotak masuk email aku refresh terus menerus. Hingga tak lama kemudian ada pesan baru masuk dengan subjek penolakan pengajuan SIKM. Memang sempat kecewa tapi aku tak berhenti di situ. Aku berusaha mencari informasi ke kawan-kawan mengenai kendaraan yang bisa aku naiki tanpa SIKM. Keputusan akhirnya tertuju pada bus. Dari sekian banyak agen bus menuju Semarang, aku memilih bus dengan harga tiket yang mahal. Itu pertanyaan yang sampai saat ini aku tanyakan kepada diri sendiri. Oke… aku sedang belajar kali ini.
Keesokan harinya, senin, bus yang aku tumpangi melaju sekitar pukul 12. Rasanya memang berat meninggalkan kota yang sudah 2 bulan aku tinggali.  Rutinitas yang sudah diatur sedemikian rupa hingga orang yang biasa aku temui akan berbeda lagi. Pada hakikatnya inilah hidup, semua harus berjalan dan berganti. Hidup begitu unik dan dinamis. Aku harus pandai-pandai beradaptasi. Selama merenung dalam perjalanan, tiba-tiba ada pesan masuk. Pemberitahuan lolos ke tahap wawancara salah satu instansi diumumkan pada saat itu! Bagiku inilah seni hidup. Kadang kita menunggu banyak hal tetapi tidak ada yang datang. Giliran satu datang, yang lain mengikuti. Semoga pilihanku tepat.
Dalam bus di Jakarta



 Menuju Sore Hari



Di tol daerah Jawa Barat



Malam sekitar pukul 9, bus sampai di Kota Semarang. Beruntung sekali rasanya karena sebelum keberangkatan aku dikirimi pesan dari salah satu kawan yang pernah bertemu di Banjarmasin untuk menginap di kosannya. Kebetulan dia juga mendaftarkan diri sebagai relawan. Terimakasih banyak kepada Zakki yang telah menjemput dan menampung diri ini selama 2 malam. Sayangnya ketika aku mendaftar satu bidang dengan dia, aku justru ditempatkan di bidang lain. Itu bukan masalah yang berarti, hanya saja aku harus berangkat pukul 8 pagi bersama Zakki tetapi giliran pembekalanku mulai pukul 1 siang. Selama menunggu, aku iseng membuat bahan presentasi untuk wawancara, meskipun pada akhirnya aku tidak mempunyai waktu untuk wawancara karena masih dalam perjalanan pulang.

Suasana dalam ruangan saat pembekalan


Suasana Kota Semarang sore hari 
diambil melalui jendela lantai 8 Dinkesprov Jateng


Pembekalan memang hanya memakan waktu setengah hari tetapi rasanya aku lelah sekali setelah menempuh beberapa perjalanan, belum lagi malam sebelumnya aku tak bisa tidur karena salah satu spesies vektor betina berusaha menghisap darahku. Niat untuk menuju kota penempatan aku urungkan malam itu karena transportasi dari Semarang belum berjalan optimal seperti semula. Paginya sekitar pukul 8 aku meninggalkan kota Lumpia dan sampai kota tujuan sekitar pukul 1. Tanpa istirahat, aku harus segera menuju kantor untuk serah terima relawan kepada kepala dinas oleh perwakilan dari provinsi. Bisa dibayangkan baru saja pembekalan keesokannya harus sudah turun lapangan? Alhamdulillah, ini namanya relawan! Harus siap :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar