Setelah beberapa kali mendaftar sebagai
relawan penanganan pandemi, akhirnya yang keempat kalinya aku bisa menghela
napas lega. Iya, aku bahagia karena akan dapat mengaplikasikan apa yang telah
aku pelajari di bangku kuliah dan menerapkannya di kehidupan nyata. Yang semula
hanya sebatas teori, kini aku bisa
mengenal medan yang sebenenarnya. Sebelumnya memang aku sudah pernah menyiapkan
diri untuk apply sebagai relawan
covid-19 di berbagai rekruitmen seperti di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di
NGO, dan di Bandara Soetta. Ada yang benar-benar di tolak dan ada yang kuotanya
penuh tetapi karena jiwa pantang menyerah selalu membara, tetap saja mendaftar
walau sudah ada tulisan ditutup. Semua memang ada cerita uniknya masing-masing.
Jujur saja, aku harus apresiasi diri sendiri atas kemauan untuk terus melangkah
menuju kebaikan. Semoga apa yang bisa aku lakukan menjadi sebuah kebaikan untuk
diri maupun orang banyak.
Menjadi seorang relawan tentu mempunyai
kepuasan tersendiri. Cerita Kerelawananku bermula ketika beberapa minggu yang
lalu ada pesan di grup peminatan terkait dibutuhkannya relawan untuk tenaga
promosi kesehatan, surveilans, dan ATLM (Ahli Tenaga Laboratorium Medis (kalau
tidak salah)) dari dinas kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Persyaratan yang
diajukan memang tidak terlalu rumit dari rekrutmen sebelumnya tetapi aku harus
berpikir ulang karena posisi sedang tidak di Jawa Tengah. Setelah memikirkan
berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba kesempatan langka
ini. Aku kembali pada prinsip “Cobalah…
selagi itu niat yang baik”. Berhari-hari hingga berminggu-minggu menunggu
pengumuman, akhirnya aku dinyatakan lolos. Rasa bahagiaku memang simpel, hanya
sebatas nama ada di edaran pengumuman cukup membuatku bisa melebarkan bibir dan
mengeluarkan senyum merekah. Mulai dari sini tantangan untuk sedikit berjuang
pun muncul.
Aku harus menyiapkan segalanya secara matang
karena relawan diwajibkan untuk menghadiri pembekalan di Semarang. Aku sempat
bepikir bahwa pembekalan akan diadakan secara online, tapi siapa sangka karena sudah ditetapkan new normal maka beberapa instansi termasuk
dinas kesehatan provinsi bisa melaksanakan
pertemuan secara offline (langsung) dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Hal yang pertama aku pikirkan adalah transportasi apa yang harus aku pilih untuk
menuju ibu kota provinsi Jawa Tengah itu. Pilihan jatuh pada kereta api karena
aku berpikir apabila naik kereta waktu yang aku keluarkan sudah pasti dan yang
jelas waktu solat bisa diatur. Sayangnya aku harus mengurus surat izin keluar
masuk (SIKM) dengan mengajukan secara online
di web yang disediakan oleh Pemerintah DKI Jakarta. Selain itu, aku harus rapid
tes sebagai kelengkapan untuk menaiki kereta.
Aku ingat betul bahwa hari sabtu aku melakukan
rapid tes dengan biaya yang membuat kantong pengangguran berteriak. Ada
kekhawatiran tersendiri ketika menunggu hasil tapi aku bersyukur alatnya
menunjukkan non reaktif. Keesokan harinya aku menatap layar laptop sejak pagi
untuk mengajukan SIKM. Pada saat itu kebingungan melanda karena aku merasa ada
informasi yang salah mengenai pengajuan SIKM. Entah aku yang kurang teliti atau
memang persyaratannya telah berubah. Tanpa berpikir panjang, borang yang masih
kosong segera ku isi. Rasanya sudah tak ada waktu lagi mengingat sore hari aku
harus segera memutuskan untuk membeli tiket. Hingga jarum jam menunjukkan pukul
satu siang, belum ada kepastian yang masuk ke email. Aku merasa resah dan
bergumam “Ya Allah apabila aku diizinkan untuk menjadi relawan, mudahkanlah
jalan ini”. Kotak masuk email aku refresh
terus menerus. Hingga tak lama kemudian ada pesan baru masuk dengan subjek
penolakan pengajuan SIKM. Memang sempat kecewa tapi aku tak berhenti di situ.
Aku berusaha mencari informasi ke kawan-kawan mengenai kendaraan yang bisa aku
naiki tanpa SIKM. Keputusan akhirnya tertuju pada bus. Dari sekian banyak agen
bus menuju Semarang, aku memilih bus dengan harga tiket yang mahal. Itu
pertanyaan yang sampai saat ini aku tanyakan kepada diri sendiri. Oke… aku sedang
belajar kali ini.
Keesokan
harinya, senin, bus yang aku tumpangi melaju sekitar pukul 12. Rasanya memang
berat meninggalkan kota yang sudah 2 bulan aku tinggali. Rutinitas yang sudah diatur sedemikian rupa
hingga orang yang biasa aku temui akan berbeda lagi. Pada hakikatnya inilah
hidup, semua harus berjalan dan berganti. Hidup begitu unik dan dinamis. Aku
harus pandai-pandai beradaptasi. Selama merenung dalam perjalanan, tiba-tiba
ada pesan masuk. Pemberitahuan lolos ke tahap wawancara salah satu instansi
diumumkan pada saat itu! Bagiku inilah seni hidup. Kadang kita menunggu banyak
hal tetapi tidak ada yang datang. Giliran satu datang, yang lain mengikuti.
Semoga pilihanku tepat.![]() |
Dalam bus di Jakarta
![]() |
Menuju Sore Hari
![]() |
Di tol daerah Jawa Barat
|
Malam sekitar pukul 9, bus sampai di Kota
Semarang. Beruntung sekali rasanya karena sebelum keberangkatan aku dikirimi
pesan dari salah satu kawan yang pernah bertemu di Banjarmasin untuk menginap
di kosannya. Kebetulan dia juga mendaftarkan diri sebagai relawan. Terimakasih
banyak kepada Zakki yang telah menjemput dan menampung diri ini selama 2 malam.
Sayangnya ketika aku mendaftar satu bidang dengan dia, aku justru ditempatkan
di bidang lain. Itu bukan masalah yang berarti, hanya saja aku harus berangkat
pukul 8 pagi bersama Zakki tetapi giliran pembekalanku mulai pukul 1 siang. Selama
menunggu, aku iseng membuat bahan presentasi untuk wawancara, meskipun pada
akhirnya aku tidak mempunyai waktu untuk wawancara karena masih dalam
perjalanan pulang.
![]() |
Suasana dalam ruangan saat pembekalan
|
![]() |
Suasana Kota Semarang sore hari
diambil melalui jendela lantai 8 Dinkesprov Jateng
|
Pembekalan memang hanya memakan waktu setengah
hari tetapi rasanya aku lelah sekali setelah menempuh beberapa perjalanan,
belum lagi malam sebelumnya aku tak bisa tidur karena salah satu spesies vektor
betina berusaha menghisap darahku. Niat untuk menuju kota penempatan aku
urungkan malam itu karena transportasi dari Semarang belum berjalan optimal
seperti semula. Paginya sekitar pukul 8 aku meninggalkan kota Lumpia dan sampai
kota tujuan sekitar pukul 1. Tanpa istirahat, aku harus segera menuju kantor
untuk serah terima relawan kepada kepala dinas oleh perwakilan dari provinsi.
Bisa dibayangkan baru saja pembekalan keesokannya harus sudah turun lapangan?
Alhamdulillah, ini namanya relawan! Harus siap :D






Tidak ada komentar:
Posting Komentar